Jumat, 21 Juni 2013

الباب السادس في فضيلة الوضوء
)... وقال صلى الله عليه وسلم الوضوء على الوضوئ نور على نور(
أى تجديد الوضوء حسنة على حسنة قال ابن حجر هو مسند  رزين رحمه الله ولم يطلع عليه المنذرى كذا فى البدر المنير للشيخ عبد الوهاب بن أحمد الأنصارى. وفى الاحياء قال صلى الله عليه وسلم من توضأ فأحسن الوضوء وصلى ركعتين لم يحدث نفسه فيهما بشئ من الدنيا خرج من ذنوبه كيوم ولدته أمه وفى لفظ آخر ولم يسفه فيهما غفر له ما تقدم من ذنبه.
(تنقيح القول الحديث فى شرح لباب الحديث، ص: 15، تأليف العلامة الشيخ محمد بن عمر النووى البنتني)

Dalam satu kesempatan, saya juga mendengar
"من توضأ طهورا فهو نور على نور"

Ijinkan aku menceritakan satu kisah kebaikan
“tahadduts binni’mah/ تحدّث بالنعمة “

An-Nida. Penjara suci, Garut.
Aku masih ingat betul yang kualami ini. Dan, mungkin “atas-Nya” takkan bisa dilupakan. Waktu itu, aku masih berseragam putih abu-abu. Kelas III.
Entah hari apa waktu itu, yang pasti semua siswa berseragam putih abu. Hari senin kalau tidak selasa. Sebab Rabu-Kamis, ber-batik. Jum’at-Sabtu ber-pramuka. Ahad, bebas. Seperti sekolah lain pada umumnya, pembelajaran dimulai pukul 07.00.  namun, ada nilai lebih di An-Nida (nama tempatku sekolah) dimana sebelum dimulai pembelajaran para siswa diwajibkan berjama’ah shalat sunnah Dhuha. Setiap pagi. Setiap hari. Kecuali seninkarena upacara. Yang memimpin (imam shalat), kadang ketua yayasan, kadang kepala sekolah, staf guru, atau salah satu dari siswa sendiri yang memimpin. Atau siapa saja bisa jadi imam.
Oh ya, sebelum ber-Dhuha tepat pukul 07.00 keamanan sekolah ditugaskan mengunci seluruh ruangan kelas juga gerbang masuk sekolah. Hal ini, demi mengetahui siapa yang tidak mengikuti Dhuha dan siswa yang terlambat. Maka, bagi yang terlambat akan dipanggil ketua BP untuk dinasihati (jika baru satu kali terlambat). Berbeda, yang tidak mengikuti Dhuha padahal tidak terlambat masuk disuruh berjemur di halaman upacara atau membersihkan wc atau kedua-duanya. Baru setelahnya dinasehati untuk kemudian disuruh melaksanakan Dhuha sendiri atau berjama’ah.