Senin, 22 Juli 2013

SEMUA KARENA CINTA

“من احبّ الشيئ فهو عبده”
“Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia adalah (menjadi) hambanya”

Maka hal itu benarlah adanya dan sering kita jumpai di sekitar kita, lingkungan kita, di kehidupan kita dan dimanapun. Dan “sesuatu” itu adalah nakiroh atau umum sifatnya, bisa benda mati bisa benda hidup. Bisa orang bisa makhluk lain apalah namanya. Bisa, kalau boleh saya misalkan, Laptop, HP, PC, dan semua perangkat serta apa-apa yang termasuk didalamnya. Bisa juga berupa kendaraan.
Atau bisa juga kita, manusia.
Ijinkan Aku berkisah memisalkan “sesuatu” itu.

Laptop. Benda ini sudah tidak asing lagi bagi kita manusia yang hidup di era segala modern. Dan laptop sudah menjadi bagian dari gaya hidup bahkan bahan primer bagi kehidupan manusia sekarang. Adalah minder jika apabila teman kita memiliki sedangkan kita tidak.
Lalu, bagaimana laptop ini memperbudak kita?
Pertama, demi untuk memilikinya kita akan ngotot dengan apapun caranya sampai benda itu benar-benar kita raih.
Kedua, demi untuk memanjakannya kita harus meng-Apply sebanyak mungkin software dan segala gadget yang uptodate semisal; games house, themes, wallpaper dan music serta movies. Dan,
Ketiga, Belum lagi untuk memudahkan benda ini bisa dibawa kemana-mana dibutuhkan yang namanya tas; Tas Laptop, itupun harus menyesuaikan tren seperti tas bermotif batik dan dengan merk ternama. Dan mungkin masih lebih lagi dari itu.
Semua itu dilakukan karena kita terlanjur “cinta” pada benda tersebut.

Motor. Seperti halnya Laptop, kita seperti tertuntut untuk memanjakannya.
Lalu, bagaimana motor ini memperbudak kita?
Pertama, kita akan mendirikan atau mengikuti sekumpulan orang-orang yang mewakili nama dari motor yang dimiliki yang kemudian sekarang kita kenal dengan sebutan klub motor.
Kedua, kita kadang disibukkan untuk memodifikasinya demi terlihat ciamik misalnya. Dan mungkin masih lebih lagi dari itu.
Semua itu dilakukan karena kita terlanjur “cinta” pada benda tersebut.

Manusia. Tidak aneh jika ada seseorang, semasa hidupnya, selalu tertawa. Bahagia. Tidak aneh jika ada seseorang, semasa hidupnya, selalu sendiri. Kesepian. Dan dibalik semua itu, ada seseorang lain yang menginspirasi, menyuntikkan semangat, mewarnai sebagian hidupnya. Dan seseorang lain itu adalah orang besar atau tokoh yang mempunyai kelebihan dimata kita. Sebut saja, Band Musik misalnya.
Lalu, bagaimana Band ini memperbudak kita?
Pertama, kita dengan sendirinya akan tergabung dalam kumpulan fans Band yang dicintai, yang dianggapnya menginspirasi dan memberikan semangat. Seperti “NOAH” dengan kumpulan “Sahabatnya”, “DEWA 19” dengan “Baladewanya", “UNGU” dengan “Unguklicquersnya”, “CJR” dengan “Commatenya”, “Cherrybelle” dengan “Twibi-Twiboysnya”, dan masih banyak entahlah apa lagi sebutannya.
UNGU misalnya. Para Klicquersnya akan mewarnai sekeliling bahkan hidupnya serba ungu mulai dari pakaian, motor, hp, laptop, lemari, kamar dan apa lagi lainnya, yang serba bernuansa ungu. Bahkan darahnya. Belum lagi kalau ada konser, dimanapun digelarnya pasti dibelai-belain demi menonton aksi panggungnya.
Dan, lagi-lagi semua itu dilakukan karena sudah terlanjur “Cinta”.

Demi cinta, apapun diberikan. Apapun dilakukan. Apapun dikorbankan.

Terlepas dari manfaatkah semua itu? Maka jawabnya adalah kembali kepada yang mencintainya. Manfaat baginya mungkin madharat bagi yang lain. Tetapi, sesuatu yang kita anggap baik terkadang buruk. Pun sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk terkadang justru baik.

Maka, segala sesuatu mulailah degan CINTA. Jalani dengan CINTA. Akhiri dengan CINTA. Dan CINTA. Semua karena CINTA.




www.iwanalit.blogspot.com
www.thohiriyyah.com

Posting Komentar