Laman

Senin, 22 Juli 2013

Sahabat itu Kayak Rumus
“mulailah dari yang terdekat yang anda fahami, kayak sahabat”

***

10 tahun silam yang lalu,  tepatnya pas kali pertama Aku masuk sebuah sekolah menengah pertama. Adalah SMP Islam Babakan Yayasan Sunan Gunung Jati, satu-satunya sekolah mengenah pertama yang ada di DesAku. Desa Babakan.

***

Jum’at-Sabtu pertama. Mengenal kepramukaan.
Tahun pertama, semester pertama. Semua siswa baru diharuskan mengikuti ekstrAkurikuler, salahsatunya Pramuka,  setiap hari kecuali hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Minggu tentunya. Pertemuan pertama hanya diperkenalkan “Apa itu pramuka?”, “Siapa pendiri pramuka?” “Dan apapun yang berkaitan dengan kepramukaan”. Pertemuan berikutnya adalah mengenal baris-berbaris, jalan ditempat, dan latihan (praktek).
Awalnya menyenangkan karena di sana “kita menemukan banyak teman baru”, begitu kata kaka kelas yang memimpin ekstrAkurikuler kami. Kelamaan, serasa mulai bosan dan jenuh karena pertama, tidak ada satupun ruangan lain yang tidak berisik. Kedua, kami harus latihan baris-berbaris di tengah halaman sekolah. Berpanas ria. Bukan karena panasnya, tetapi setelah baris berbaris itu kami  juga disuruh latihan jalan ditempat. Dan bukan karena jalan dittempatnya, tetapi selama kami jalan ditempat kudu sambil mengucapkan “PRAMUKA TIDAK KENAL LELAH !!! PRAMUKA TIDAK KENAL PANAS !!!”, itulah yang kami sesalkan. Pertemuan berikutnya juga sama, materi, baris-berbaris, masuk kelas, menghafal Dasadarma Pramuka, dan Hymne pramuka sebelum sayonara. Pulang. Dan begitu setersunya, tidak lebih tidak kurang.

***

Jum’at-Sabtu kedua. Mengenal sandi-sandi kepramukaan.
Ada beberapa sandi dalam kepramukaan dan seingatku ada, sandi kotak, sandi morse, dan sandi rumput. Tetapi yang ‘cukup’ kami dalami hanya sandi kotak sebagai dasar. Tidak lebih tidak kurang. Yang satu ini, Aku cukup tertarik karena baru pertama mendengar walaupun hasilnya, tidak teramat buruk. Lumayan.
Adalah satu jam pertama, selebihnya diisi dengan latihan-latihan sebanyak mungkin. Sefaham kami bisa. Setelahnya, seperti biasa kami berkumpul di halaman sekolah. Latihan lain. Baris-berbaris. Jalan ditempat (dengan “pramuka tidak kenal … “). Berpanas ria.
Menjelang sayonara, menghafal Dasadarma dan Hymne Pramuka sebagai hidangan penutup sebelum pulang.

***

Jum’at ketiga. Ujian masuk.
Sudah diumumkan 6 hari sebelum pelaksanaan ujian ini. Ujian masuk menjadi penggalang. Aku tidak begitu tertarik juga tidak antusias, lagian ujian ini tidak begitu semenAkutkan waktu kelulusan Madrasah Ibtidaiyyah, sekolah MI ku dulu. Artinya, ujian masuk ini “open book (membuka bukunya sendiri-sendiri)” tapi tidak “colek teman”, dan OK tak masalah. Lagian, bucat (buku catatan) ku cukup dari lengkap oleh materi.
Hasilnya, Aku termasuk lima besar tercepat keluar ujian terlepas dari benar atau salah hasil garapanku. Dan dari kelima besar ini membuat peserta sekelas kami panik, berhamburan macam pasar meminta jawaban soal berikutnya, menyamakan jawaban, menyamakan rumus (sandi kotak), mengurutkan bunyi Dasadarma Pramuka. Aku tertawa demi melihat ada yang baru menuliskan nama pemilik lembar jawaban dan menulisi entah apalah dengan cepat macam Dokter menuliskan resep untuk pasiennya. Pulang dini.

***

Jum’at kesekian. Pengumuman penggalang.
Tidak ada ketegangan setegang waktu pengumuman kelulusan MI ku dulu karena Aku, sedikitpun tidak terpikirkan pertemuan yang entah kesekiannya. Tiba-tiba, kakak kelas kami masuk dan membacakan entah daftar apalah Aku tidak tertarik untuk mengira-ngira. Menelisik. Dan, Hei! Ada lima temanku yang dipanggil bersasar daftar apalah itu dan Aku termasuk didalamnya. Aku masih belum bisa menduga-duga daftar itu yang jelas setelah Aku tahu termasuk yang dipanggil Aku panik dan menyangka-nyangka sesuatu yang buruk “apakah Aku datang terlambat? Tidak kan!” atau “apakah seragam pramukAku tidak lengkap?” atau, entahlah Aku semakin tegang setelah temanku yang lain (tidak termasuk yang dipanggil) menAkutiku bahwa ada hukuman menunggu.
Adalah teman sekelasku yang juga dipanggil waktu awal-awal pertemuan kepramukaan dulu. Mereka dipanggil saat pemberian materi berlangsung, disuruh keluar kelas kemudian langsung berlari mengelilingi halaman sekolah, jalan ditempat (kali lipat dari jadwal latihan biasa) tanpa berhenti sebelum dan selain ada komando dari kakak kelas kami.
Itu adalah hukuman karena mereka datang terlambat, seragam pramuka tidak lengkap, dan salah memakai warna kaus kaki. Aku terbahak.
Itulah yang Aku tAkutkan juga ketika Aku termasuk dalam daftar panggilan itu dan, hei! Keteganganku surut demi mendengar pengumuman itu, “Aku salah satu terpilih menjadi bagian penting dari ekstrAkurikuler kepramukaan”. Penggalang Pramuka. Ya, walaupun masih calon karena kami harus terlebih dahulu dilantik sebelum dibaeat oleh penggalang senior, pembina, kepala sekolah dan ketua yayasan terutama.
Baris-berbasis Jum’at kesekian ini terasa diguyur hujan. Ah betapa.

***
Baris-berbaris.
SIAP GRAK! LURUSKAN! LURUS!
PERIKSA KERAPIHAN! LENGKAP!
HORMAT GRAK! TEGAP GRAK!
HADAP KANAN GRAK! HADAP KIRI GRAK! BALIK KANAN GRAK!
SERONG KANAN GRAK! SERONG KIRI GRAK! BALIK SERONG KANAN GRAK!
Berulang-ulang kami melAkukan gerakan itu karena ada satu, dua saja yang salah maka semuanya mengulang.  Dan itu baru berhenti setelah selama setengah jam kami latihan. Setelahnya Kak senior melAkukan evaluasi, siapa yang bingung, siapa yang belum faham, siapa yang masih kAku, siapa yang masih merasa susah. Kami tak menjawab.
Oh ya, dalam kepramukaan, kepada siapa saja, harus memanggil nama seseorang harus didahului “Kaka” atau “Kak”. Kak Iwan misalnya. Maka, siapa saja yang mengucapkan selain itu maka siap-siap saja pulang paling akhir.

***

Sandi kotak.
Dari sekian banyak rumus Matematika dan Fisika yang diajarkan di sekolah tidak ada istilah sandi kotak. Dengan segala rumusnya Aku sadar Matematika adalah pelajaran yang rumit. Fisika, juga tidak kalah rumit. Aku tidak membencinya tapi tidak juga menyukainya.
Tidak rumit tapi tidak juga gampang.  Kalau dirumuskan;
ΔΔ













Entah Aku yang terlalu pemalas atau Kak penggalangnya yang ‘kurang’ gamblang menjelaskan, sampai tiga pertemuan awal Aku belum juga bisa menguasai sandi ini tanpa melihat. Aku mencoba menelisik, mencoba memahami itu dengan carAku sendiri dan akhirnya Aku dibuat bosan oleh karena terus menerus memelototi rumus itu tanpa ada titik temu. Sampai kuputuskan merubuah rumus itu menjadi;
ΔΔ

Semua sisi saya beri garis. Dan Aku tambah tidak mengerti nan semakin bingung hingga akhirnya salah satu temanku menghampiriku membawa berita itu.



***
Berita itu datang dari Nteng. Begitu dia akrab (minta) dipanggil. Adalah teman wanitAku dulu sewaktu MI. Setelah lulus kami masuk bareng ke SMP YSGD itu. SMP Islam Babakan Yayasan Sunan Gunung Djati, sayang kami tidak satu kelas. Dia di kelas B dan Aku C.
ΔΔ

Beberapa hari sebelum pelaksanaan ujian masuk anggota penggalang, dia menghampiriku pada jam istirahat lantas menunjukkan rumus itu. Sandi itu. Ternyata, sangat sederhana adanya;
dan kutulis ulang rumus itu lagi seperti sediakala. Ah betapa.











***
Jum’at yang entah kesekian, Aku tidak lagi menghitung.
Setelah pelantikan itu, pembaetan itu Aku sudah resmi menyandang “Kak Penggalang” juga dia, Nteng. Untuk jum’at yang, ah entah keberapa, kami wajib datang lebih awal dan kami juga harus memberi materi kepramukaan juga mengawasi bahkan melatih baris-berbaris lalu, ah mengikuti rapat sebelum akhirnya pulang.

***
Betapa, mendapatkan penjelasan yang menyenangkan hati. Terimakasih.

www.thohiriyyah.com    www.iwanalitblogspot.com
Poskan Komentar